Wednesday, October 10, 2012

Kemacetan

Siang ini begitu terik, rasanya tidak ada yang salah, tapi perempuan-perempuan itu menatapku, penuh dengan kedengkian yang menghujam. Aku tak perduli. Aku poleskan lotion itu pada kedua lenganku dan sedikit aku taburkan bedak pada wajahku. Beberapa lelaki berumur yang sudah nampak renta itu mencuri-curi pandang, menatapku penuh dengan hal yang tidak bisa aku jelaskan. Aku tetap tidak perduli. Aku lanjutkan makan siangku dengan tidak memperdulikan sekelilingku. Aku menikmatinya. Aku tinggalkan kafe ini dan kembali pada jalanan yang sangat aku cintai. Aku suka macet. Macet memberikan sedikit waktu luang untukku beristirahat dan merasakan kesendirian yang tak ku dapatkan di tempat lain. Mobil ini tak pernah terisi lebih dari satu orang. Aku tak pernah mengijinkan siapapun memasuki mobilku. Inilah satu-satunya tempat pribadi yang bisa aku selamatkan dari sentuhan orang-orang disekelilingku. Aku nyalakan musik. Tapi terlalu gaduh untuk kesendirianku ini. Aku matikan kembali. Aku lihat sekelilingku, yang aku temukan adalah mobil dan pengendara motor, serta beberapa pengamen yang sedang berteriak-teriak, meneriakan syair lagu yang entah siapa penciptanya. Aku ambil cermin di dalam tasku. Aku melihat Aku dalam kaca. Aku tersenyum. Andai macet ini bisa lebih lama lagi, tentu aku akan jauh lebih senang. Namun ternyata, kemacetan ini terurai, mobilku kembali dapat bergerak dan memecah jalanan ibukota, aku hanya berharap di jalan depan, aku dapat menemukan kembali kemacetan. Begitu cintanya aku pada kota ini, ya, tentu karena kota ini memiliki angka kemacetan yang tinggi. Dengan kata lain, Aku bisa lebih lama menikmati kesendirian dan ketenanganku ini.
Rasanya waktu tak mengijinkanku untuk merasakan kesendirian dan ketenangan itu lagi, jalan menuju kantor sangat lancar, tanpa macet bahkan lampu merah. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum pada kebaikan waktu agar aku dapat menyelesaikan semua tugas kantorku. Aku parkirkan mobilku di sebelah tiang yang menantang pohon-pohon di sekitarnya, tiang itu begitu angkuh. Ah, apa peduliku. 
Menjadi fashion editor bukanlah hal yang mudah, tapi menyenangkan, dibandingkan dengan bekerja sebagai pengamen. Aku kembali pada meja kerjaku. Kembali, rasa kesendirian dan ketenangan langsung membumbung tinggi, lenyap begitu saja. Tergantikan dengan keadaan yang Aku pun juga suka, keramaian. Selesai jam kantor, kafe itulah yang terpilih, dengan beberapa orang rekan, kafe itu disemarakkan oleh kegaduhan rekan-rekanku. Sungguh gaduh yang tak terkira, terlebih live music yang disajikan oleh kafe itu. Ahh ayolah segera selesai. Aku hanya butuh mobilku. Waktu benar-benar menolongku kali ini, Aku kembali pada mobilku dan aku dapati diriku yang kembali merasakan kesendirian dan ketenangan. Rasanya mustahil sepetang ini jalanan ibukota macet. Dan aku membencinya. Aku butuh kemacetan. Tapi aku tetap melintasinya. Aku arahkan mobilku pada sebuah apartemen yang sampai saat ini belum lunas. Apartemenku bukanlah tempat pribadiku, karena aku membaginya dengan beberapa rekan-rekanku. Tak ku temukan  kesendirian dan ketenangan di bangunan bersekat itu.

" selamat malam Pak Rae " sapa satpam yang menjaga apartemenku.

" malam pak, selamat bertugas " balasku dari dalam mobil.

Aku keluarkan satu kantong plastik yang berisi kopi siap saji. Aku berikan pada Pak Emon, Satpam Apartemenku.

" wah, makasi Pak Rae. Semoga rejekinya makin banyak, hehehe "

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis