Saturday, October 20, 2012

untitled

Aku tidak akan menulis tentang Cinta. 
Karena Aku tidak mengerti Cinta. 
Dan saat ini, Aku tidak mau mengerti tentang Cinta. 
Hingga mungkin suatu saat nanti ketika Cinta itu memang datang padaKu dan memaksaKu untuk mengertinya, akan Aku tulis tentang Cinta, dengan Kamu sebagai spasi dalam Ceritanya. 
Agar ceritaKu penuh makna.


Friday, October 12, 2012

Nyata Pura-Puraku

" kamu harus segera mengambil sikap?"

" sikap untuk?"

" tentu saja untuk pernikahan itu. jangan permainkan hal yang sakral ini. cukupkan saja, kamu akan menyakiti semua orang yang menyayangi kamu. jangan salahkan aku, aku sudah peringatkan kamu, bahkan sebelum hari ini ..."

kamu tetap berbicara, yang entah aku tak paham arah pembicaraan ini kemana. kamu merasa tau segalanya, tentang aku, dia. aku terus memandangimu tanpa mendengarkan satu kata pun yang kamu bicarakan. aku teguk lagi green tea hangat yang semakin menyusut ini. aku hanya memperhatikan wajahmu, wajahmu yang semakin cantik dengan pita yang kau pasangkan pada rambutmu. sesekali aku hanya tersenyum sambil terus menyaksikan gerak bibirmu. kamu selalu indah.

" jadi bagaimana? apa akan tetap kamu lanjutkan?"

" tentu saja. tidak ada alasan bagiku untuk membatalkannya. santailah sejenak, kamu terlalu khawatir."

" tidak ada alasan? "

Kamu mendengus pelan, sambil memainkan sedotan dari minuman yang kamu sebut lemon tea itu. bibir merahmu itu kamu mainkan, memoncongkannya, yang membuat aku semakin tertarik. itulah ekspresi yang paling aku suka. ekspresi di kala kamu cemburu, cemburu kepadaku.
Kamu itu masih tetap seperti itu, mengambil kesimpulan sendiri, tanpa mau bertanya terlebih dulu kepadaku. Kamu terlalu sering menelan berita-berita yang kamu dengar tentangku. Tapi anehnya, kamu tetap ada disampingku. Kamu terlalu khawatir dengan segala hal tentang aku. Dan aku tetap seperti biasa, hanya menyaksikan kegelisah dan kegundahan kamu. Bukan aku tak mau menjelaskan segalanya, aku masih terlalu nyaman dengan posisi ini, mungkin suatu saat nanti, tiga hari dari sekarang, catat itu.
Seharusnya kamu bisa seperti aku. Terserah. Iya terserah orang lain membicarakan apa. Membekukan telinga dan menutup rapat mata. Dan disitulah kedamaian akan terasa. Karena hanya suara Tuhan yang didengar dan jalan Tuhan yang terlihat.

" baiklah, kamu harus janji untuk tidak mengatakan pertemuan ini pada siapapun"

Kamu mengambil tas kecil itu dan terus melangkah meninggalkan aku sendirian. Aku terus mengamatimu hingga pintu itu tertutup. Aku pandangi tehku. Aku ambil telepon genggamku dan mencari nomor kontak dengan nama "calon istriku"

" hai sayang. sudah sampai mana?"

" hai, aku baru naik taksi sekarang. Baru saja aku bertemu dengan laki-laki yang dulunya temanku, kemudian menjadi pacar dengan gelar tertentu, yang selalu mendengar nasehatku, tapi sepertinya sekarang dia berbeda. aku akan langsung ke rumah. biar Ibu saja yang mengurus baju itu. sepertinya Ibu antusias sekali menyelenggarakan pernikahan anak gadis pertamanya ini."

aku tersenyum

" berhati-hatilah di jalan, bilang itu pada supir taksi"

" oke, terima kasih"

aku tutup pembicaraan itu. dan aku letakkan lagi telpon genggamku. tak berapa lama, aku mendapatkan sebuah pesan singkat.

" hentikan. jangan khawatirkan aku dan orang-orang disekelilingku. aku hanya tidak ingin menyakiti orang yang kamu cintai itu"

aku tersenyum. hanya memandangi layar telpon genggamku yang semakin meredup cahayanya. aku hanya berpikir, "kenapa ada wanita sebodoh ini yang tidak pernah bisa berpikir seperti biasa dan dia begitu bodohnya tak pernah mau bertanya"
Tiga hari setelah kedatangmu ke rumahku datang. Hari pernikahan aku dan kamu. Kamu memakai kebaya putih yang indah. Kamu cantik sekali. Inilah hari penghalalan aku dan kamu. Aku kecup keningmu. Ini pertama kalinya aku menyentu keningmu. Semoga hangat ya, kamu. Betapa indahnya halal itu. Aku bisikkan sesuatu padamu.

" aku mencintaimu, kenapa kamu bodoh sekali tidak pernah mau bertanya siapa wanita yang aku cintai, itu adalah kamu, tidak ada dia atau dia, yang ada hanya kamu. Pernikahan ini bukanlah kesalahan yang harus disesali nantinya, tapi mungkin jika suatu saat ini adalah bentuk kesalahan, ini adalah kesalahan yang akan aku syukuri sepanjang hidupku. "

Aku rasakan air matamu jatuh di tanganku. Kamu menangis. Bibir merahmu bergetar. 

" kamu bukanlah kepura-puraanku, tapi kamu adalah kenyataanku. Kenyataan yang hanya aku sendiri yang tahu. dan wahai wanitaku, kenapa dulu kau mau aku jadikan pacar pura-puraku? "

" karena aku menyukaimu " 

akhirnya kamu pun berbicara. senyum, itulah selanjutnya yang kau lakukan. Aku sangat bahagia.



QUESTION

mau ikutan kaya ifa ah hahaha Question ala Ifa


Orang tuamu tidak tahu kalau kamu...
Sering bolos les bahasa inggris gara-gara latian silat
Emosi kamu naik kalo... 
Laper
Kamu galau kalo..
Ngantuk 
Kalo kamu kembali ke masa kecil, kamu akan... 
Les biola dan rajin les nari
Teman SMA mu tidak tahu kalo kamu... 
Suka pusing di kelas
Kamu akan merasa menyesal kalo... 
Gak berguna buat orang lain
Kamu tidak suka kalo... 

Orang disekitar gak pada menjadi diri sendiri
Kamu memendam perasaan kalo...
Suka sama orang
marah atau nangis? 
Nangis
Sayuran atau seafood? 
Sayuran
Putih atau Merah

Putih
coklat atau es krim?
Es Krim 
sinetron atau reality show?
 reality show
musik atau olahraga?
 musik
nikah muda atau nikah tua?
 nikah muda, amiin :D
baca atau nonton? 
baca
drama romantis atau drama keluarga?
 drama keluarga
serial drama korea atau film jepang?

 film jepang
Laut atau gunung?
Laut
Travelling atau Shoping?
Travelling
Desainer atau Peniulis?
Penulis
Perhatian atau Diperhatiin?
Perhatian
Kopi atau Teh?
Kopi

Wednesday, October 10, 2012

Kemacetan

Siang ini begitu terik, rasanya tidak ada yang salah, tapi perempuan-perempuan itu menatapku, penuh dengan kedengkian yang menghujam. Aku tak perduli. Aku poleskan lotion itu pada kedua lenganku dan sedikit aku taburkan bedak pada wajahku. Beberapa lelaki berumur yang sudah nampak renta itu mencuri-curi pandang, menatapku penuh dengan hal yang tidak bisa aku jelaskan. Aku tetap tidak perduli. Aku lanjutkan makan siangku dengan tidak memperdulikan sekelilingku. Aku menikmatinya. Aku tinggalkan kafe ini dan kembali pada jalanan yang sangat aku cintai. Aku suka macet. Macet memberikan sedikit waktu luang untukku beristirahat dan merasakan kesendirian yang tak ku dapatkan di tempat lain. Mobil ini tak pernah terisi lebih dari satu orang. Aku tak pernah mengijinkan siapapun memasuki mobilku. Inilah satu-satunya tempat pribadi yang bisa aku selamatkan dari sentuhan orang-orang disekelilingku. Aku nyalakan musik. Tapi terlalu gaduh untuk kesendirianku ini. Aku matikan kembali. Aku lihat sekelilingku, yang aku temukan adalah mobil dan pengendara motor, serta beberapa pengamen yang sedang berteriak-teriak, meneriakan syair lagu yang entah siapa penciptanya. Aku ambil cermin di dalam tasku. Aku melihat Aku dalam kaca. Aku tersenyum. Andai macet ini bisa lebih lama lagi, tentu aku akan jauh lebih senang. Namun ternyata, kemacetan ini terurai, mobilku kembali dapat bergerak dan memecah jalanan ibukota, aku hanya berharap di jalan depan, aku dapat menemukan kembali kemacetan. Begitu cintanya aku pada kota ini, ya, tentu karena kota ini memiliki angka kemacetan yang tinggi. Dengan kata lain, Aku bisa lebih lama menikmati kesendirian dan ketenanganku ini.
Rasanya waktu tak mengijinkanku untuk merasakan kesendirian dan ketenangan itu lagi, jalan menuju kantor sangat lancar, tanpa macet bahkan lampu merah. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum pada kebaikan waktu agar aku dapat menyelesaikan semua tugas kantorku. Aku parkirkan mobilku di sebelah tiang yang menantang pohon-pohon di sekitarnya, tiang itu begitu angkuh. Ah, apa peduliku. 
Menjadi fashion editor bukanlah hal yang mudah, tapi menyenangkan, dibandingkan dengan bekerja sebagai pengamen. Aku kembali pada meja kerjaku. Kembali, rasa kesendirian dan ketenangan langsung membumbung tinggi, lenyap begitu saja. Tergantikan dengan keadaan yang Aku pun juga suka, keramaian. Selesai jam kantor, kafe itulah yang terpilih, dengan beberapa orang rekan, kafe itu disemarakkan oleh kegaduhan rekan-rekanku. Sungguh gaduh yang tak terkira, terlebih live music yang disajikan oleh kafe itu. Ahh ayolah segera selesai. Aku hanya butuh mobilku. Waktu benar-benar menolongku kali ini, Aku kembali pada mobilku dan aku dapati diriku yang kembali merasakan kesendirian dan ketenangan. Rasanya mustahil sepetang ini jalanan ibukota macet. Dan aku membencinya. Aku butuh kemacetan. Tapi aku tetap melintasinya. Aku arahkan mobilku pada sebuah apartemen yang sampai saat ini belum lunas. Apartemenku bukanlah tempat pribadiku, karena aku membaginya dengan beberapa rekan-rekanku. Tak ku temukan  kesendirian dan ketenangan di bangunan bersekat itu.

" selamat malam Pak Rae " sapa satpam yang menjaga apartemenku.

" malam pak, selamat bertugas " balasku dari dalam mobil.

Aku keluarkan satu kantong plastik yang berisi kopi siap saji. Aku berikan pada Pak Emon, Satpam Apartemenku.

" wah, makasi Pak Rae. Semoga rejekinya makin banyak, hehehe "

Mentari


Mentari pagi ini sangat hangat, lebih hangat dari secangkir kopi yang tersaji di meja tamuku. Sinarmu tak dapat aku tangkap dengan mataku ini, menyilaukan. Sungguh.  Sengatanmu tajam, namun menghujam secara lembut. Tak sanggup mata ini menatap keindahan mentari pagi yang beranjak naik. Seperti aku yang tak pernah berani menatap keindahanmu secara langsung, karena Kau begitu menyilaukan dengan keindahan lainmu itu. Keindahanmu hanya bisa aku rasakan dengan  indra perabaku, bukan indra penglihatanku. Aku mengagumimu mentari pagi. Seperti Aku mengagumi hal-hal lain yang tidak Aku liat dari keindahanmu. Walau ragamu tak bisa aku lihat secara nyata, tapi kehangatanmu bisa aku rasakan. Terimakasih untuk kehangatanmu, Mentari, Jangan lelah untuk terbangun di masa yang disebut pagi. Karena aku selalu membutuhkanmu, Mentari hangat di pagi hari. Terbenamlah jika memang sudah saatnya, dengan semburat orange yang akupun suka. Terkadang kau pancarkan juga warna lain yang tak kalah aku suka. Warna apapun yang kau pancarkan, aku tetap menyukainya, membuat senja menjadi selalu berbeda setiap harinya. Seperti Kamu. Aku tidak pernah sedih ketika kau terbenam mentari. Karena kau tidak hilang, hanya memberikan ruangmu untuk hal lain yang aku suka juga, rembulan.  

Aku memujaMu, Tuhan, melalui kamu, Mentari dan Rembulan. Aku titipkan penjagaanku kepadamu melalui sinar mentari pagi, teriknya matahari, senja yang bersemburat orange, dan sinar rembulan yang meneduhkan, melalui Tuhan, yang menciptakan keindahan itu. 


Nanti

Apakah kamu tau aku takut dengan kata nanti? Takut bahwa nanti itu tidak akan pernah ada. Tidak akan pernah kita temukan. Nanti itu hanya akan jadi rencana yang selamanya akan menjadi rencana. Rencana yang tak kunjung ada nyatanya. Nanti yang akan tetap menjadi nanti, yang tak akan pernah menjadi apapapun selain nanti.

Tuesday, October 2, 2012

RUMPI : Limbad


tulisan kali ini mau bahas tentang cowok. khm. cek, satu .. dua .. tiga .. hahaha tapi perasaan tulisan gue yang lain juga bahasannya tentang cowok juga. gak tau si lagi pengen nulis aja. iya tentang cowok, tapi ini sedikit memojokkan mereka, wahai kaum lelaki, maafkan aku sebelumnya. hahaha. 
gini .. gini. akhir-akhir ini setiap nonton Tv, gaktau kenapa selalu aja dapet beritanya tentang limbad. iya, itu lo magician yang gak pernah ngomong, enak banget yaa, huh jadi iri, eh gak juga si, lebih enak bisa ngomong bebas deh ya. hhahaha. Gak niat nonton infotainment gitu, tapi PAS banget tiap nyalain Tv, PAS jam tayang salah satu infotainment. oke, gak usah bahas itunya juga kali ya, hahaha.
buat yang belum tau, jadi gini, si limbad itu ternyata selingkuh men, selingkuh !! .. "ahhh Tuhan, selamatkan aku dari para lelaki yang suka selingkuh, amiinn. rasanya aku gak bakal sanggup Tuhan, aku ini wanita yang lemah, lemah sekali Tuhan". hehehe. berlebihan deh. yang parahnya lagi nih kata infotainment selingkuhannya itu udah hamil. Istri Limbad yang sah gak terima tuh, langsung laporin suaminya ke Polisi dengan tuduhan perzinahan, *merinding ngeri kalo bahas masalah zinah :( *
aduh, kok gue jadi rumpi gini yaa, hahaha ... sebenernya mau mencurahkan apa yang lagi dipikirin sama realita yang terjadi sekarang.
Dulu, ketika Limbad masih belum menjadi apa-apa, ya mbak Susi itulah yang dengan setia mendampingi. tapi kok rasanya balesannya gak setimpal banget ya sama yang didapet mbak Susi sekarang. diselingkuhin loh diselingkuhin *ngomong pake TOA*. Gue pikir, kesuksesan yang didapet sama Limbad sekarang tuh ya berkat mbak Susi juga, melalui doanya, usahanya. dan mungkin kalo istrinya Limbad bukan mbak Susi ya gak bakal bisa kaya sekarang, tapi mungkin juga bisa lebih dari apa yang bisa dia dapet sekarang *mulai plin-plan* mungkin loh ya, gue bukan Tuhan. Intinya adalah kenapa Limbad gak mikir sejauh itu sebelum selingkuh ?? *mulai emosi* atau mungkin Limbad mikir sampe situ makanya dia selingkuh, eumm.
Coba waktu dulu sebelum Limbad terkenal kaya sekarang istrinya tuh bukan mbak Susi, tapi selingkuhannya yang sekarang, emang tetep bakal setia sama Limbad? ya mungkin aja si *mulai ragu* , duh, tapi anggep aja gak mungkin. Jangan-jangan malah Limbad yang dicerai duluan.*pikiran buruk*
ahh dasar cowok, kenapa siih kenapa? *kenapa apanya ya?* hahahaaa
satu fakta lagi tentang cowok:
Beberapa hari yang lalu gue pernah nanya ke salah satu sahabat cowok gue, "emang cowok gitu ya, gampang banget pindah ke lain hati?" terus kata sahabat cowok gue, "iya". "enak banget ya jadi cowok. gue pengen dong gitu. cewek kan kalo udah sayang ke orang, beuhh susah banget tuh buat belok-belok." sahabat cowok gue bilang, "ya gak bisalah, dimana-mana cewek tuh pakenya perasaan. tapi gak semua cowok gitu kok." gue cuma meringis ngedenger jawaban sahabat cowok gue itu.
jadi inti tulisan ini adalah marilah bersama-sama, para pria di muka bumi ini, sayangi Ibu dan Ayah kalian, serta saudara-saudara kalian dan jangan lupakan Tuhanmu. kalo dapet istri, pacar, atau gebetan yang ngelarang kalian-kalian buat menyayangi Ibu dan Ayah, segera putuskan dan ganti dengan yang baru. hahaha. aduh, kok malah kepikiran lagi ke masalah Limbad. jangan-jangan Limbad selingkuh, gara-gara mbak Susi ngelarang Limbad buat nyayangin Ayah Ibunya? *pikiran buruk* , ahhh sudahlah. Dan untuk para cewek-cewek kece diluar sana, pilihlah pria yang menyayangi Ibu, Ayah, dan Saudara-Saudaranya. Karena tanggungjawab anak cowok ke Ayah Ibunya itu sampai mati, kalo cewek kan cuma sampe nikah doang :')
jadi, memojokkan kaum adamnya disebelah mana ya? hahaha.
hahaha, ini aselinya gak penting banget. tapi pengen diposting hahaha.

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis