" kamu harus segera mengambil sikap?"
" sikap untuk?"
" tentu saja untuk pernikahan itu. jangan permainkan hal yang sakral ini. cukupkan saja, kamu akan menyakiti semua orang yang menyayangi kamu. jangan salahkan aku, aku sudah peringatkan kamu, bahkan sebelum hari ini ..."
kamu tetap berbicara, yang entah aku tak paham arah pembicaraan ini kemana. kamu merasa tau segalanya, tentang aku, dia. aku terus memandangimu tanpa mendengarkan satu kata pun yang kamu bicarakan. aku teguk lagi green tea hangat yang semakin menyusut ini. aku hanya memperhatikan wajahmu, wajahmu yang semakin cantik dengan pita yang kau pasangkan pada rambutmu. sesekali aku hanya tersenyum sambil terus menyaksikan gerak bibirmu. kamu selalu indah.
" jadi bagaimana? apa akan tetap kamu lanjutkan?"
" tentu saja. tidak ada alasan bagiku untuk membatalkannya. santailah sejenak, kamu terlalu khawatir."
" tidak ada alasan? "
Kamu mendengus pelan, sambil memainkan sedotan dari minuman yang kamu sebut lemon tea itu. bibir merahmu itu kamu mainkan, memoncongkannya, yang membuat aku semakin tertarik. itulah ekspresi yang paling aku suka. ekspresi di kala kamu cemburu, cemburu kepadaku.
Kamu itu masih tetap seperti itu, mengambil kesimpulan sendiri, tanpa mau bertanya terlebih dulu kepadaku. Kamu terlalu sering menelan berita-berita yang kamu dengar tentangku. Tapi anehnya, kamu tetap ada disampingku. Kamu terlalu khawatir dengan segala hal tentang aku. Dan aku tetap seperti biasa, hanya menyaksikan kegelisah dan kegundahan kamu. Bukan aku tak mau menjelaskan segalanya, aku masih terlalu nyaman dengan posisi ini, mungkin suatu saat nanti, tiga hari dari sekarang, catat itu.
Seharusnya kamu bisa seperti aku. Terserah. Iya terserah orang lain membicarakan apa. Membekukan telinga dan menutup rapat mata. Dan disitulah kedamaian akan terasa. Karena hanya suara Tuhan yang didengar dan jalan Tuhan yang terlihat.
" baiklah, kamu harus janji untuk tidak mengatakan pertemuan ini pada siapapun"
Kamu mengambil tas kecil itu dan terus melangkah meninggalkan aku sendirian. Aku terus mengamatimu hingga pintu itu tertutup. Aku pandangi tehku. Aku ambil telepon genggamku dan mencari nomor kontak dengan nama "calon istriku"
" hai sayang. sudah sampai mana?"
" hai, aku baru naik taksi sekarang. Baru saja aku bertemu dengan laki-laki yang dulunya temanku, kemudian menjadi pacar dengan gelar tertentu, yang selalu mendengar nasehatku, tapi sepertinya sekarang dia berbeda. aku akan langsung ke rumah. biar Ibu saja yang mengurus baju itu. sepertinya Ibu antusias sekali menyelenggarakan pernikahan anak gadis pertamanya ini."
aku tersenyum
" berhati-hatilah di jalan, bilang itu pada supir taksi"
" oke, terima kasih"
aku tutup pembicaraan itu. dan aku letakkan lagi telpon genggamku. tak berapa lama, aku mendapatkan sebuah pesan singkat.
" hentikan. jangan khawatirkan aku dan orang-orang disekelilingku. aku hanya tidak ingin menyakiti orang yang kamu cintai itu"
aku tersenyum. hanya memandangi layar telpon genggamku yang semakin meredup cahayanya. aku hanya berpikir, "kenapa ada wanita sebodoh ini yang tidak pernah bisa berpikir seperti biasa dan dia begitu bodohnya tak pernah mau bertanya"
Tiga hari setelah kedatangmu ke rumahku datang. Hari pernikahan aku dan kamu. Kamu memakai kebaya putih yang indah. Kamu cantik sekali. Inilah hari penghalalan aku dan kamu. Aku kecup keningmu. Ini pertama kalinya aku menyentu keningmu. Semoga hangat ya, kamu. Betapa indahnya halal itu. Aku bisikkan sesuatu padamu.
" aku mencintaimu, kenapa kamu bodoh sekali tidak pernah mau bertanya siapa wanita yang aku cintai, itu adalah kamu, tidak ada dia atau dia, yang ada hanya kamu. Pernikahan ini bukanlah kesalahan yang harus disesali nantinya, tapi mungkin jika suatu saat ini adalah bentuk kesalahan, ini adalah kesalahan yang akan aku syukuri sepanjang hidupku. "
Aku rasakan air matamu jatuh di tanganku. Kamu menangis. Bibir merahmu bergetar.
" kamu bukanlah kepura-puraanku, tapi kamu adalah kenyataanku. Kenyataan yang hanya aku sendiri yang tahu. dan wahai wanitaku, kenapa dulu kau mau aku jadikan pacar pura-puraku? "
" karena aku menyukaimu "
akhirnya kamu pun berbicara. senyum, itulah selanjutnya yang kau lakukan. Aku sangat bahagia.