semakin hari aku semakin arogan.
sulit menempatkan perasaan pada yang semestinya.
sulit memberi kepercayaan pada yang "berhak".
limbung oleh luka dari kepercayaan.
masih tentang kepercayaan.
dan itu begitu dalam.
refleksi dua puluh dua tahun.
Tuesday, December 23, 2014
Bermain Kepercayaan
akhir seperti ini yang tidak pernah seorang "teman" inginkan, hilangnya kepercayaan. jangan bermain-main dengan kepercayaan. semua hal yang aku percayai kini mulai hilang. rasa percaya pada kepercayaan itu pun hilang, pudar, seiring semakin jelasnya semua. terkadang, perasaan menyesal memenuhi seluruh relung, menutup mata hati, mata yang selalu melihatnya sebagai "teman".
aku sedih. tentu sedih. bukan karena semua masalah yang hadir. tapi sedih pada akhirnya akan seperti ini. kepercayaan yang aku titipkan padanya, digadaikan atasa dasar "keperdulian" padaku.
entah siapa yang salah, entah.
entah siapa yang benar, entah.
kecewa, sedih. rasa percaya pada kepercayaanku telah hilang, musnah.
maka jangan salahkan aku, atas kelunya bibir ini.
maka jangan salahkan aku, atas pandangan tak percaya ini.
jangan salahkan aku!
kemanakan kepercayaanku?
jangan bermain dengan kepercayaan. jangan.
bahkan pada "teman".
aku sedih. tentu sedih. bukan karena semua masalah yang hadir. tapi sedih pada akhirnya akan seperti ini. kepercayaan yang aku titipkan padanya, digadaikan atasa dasar "keperdulian" padaku.
entah siapa yang salah, entah.
entah siapa yang benar, entah.
kecewa, sedih. rasa percaya pada kepercayaanku telah hilang, musnah.
maka jangan salahkan aku, atas kelunya bibir ini.
maka jangan salahkan aku, atas pandangan tak percaya ini.
jangan salahkan aku!
kemanakan kepercayaanku?
jangan bermain dengan kepercayaan. jangan.
bahkan pada "teman".
Thursday, December 11, 2014
aku (tidak) baik-baik saja !
satu setengah bulan terakhir, pikiran dan perasaan memang sedang tidak stabil, semuanya terkoyak oleh sesuatu yang sangat tiba-tiba. menurutku, itu sangat tiba-tiba. ah, padahal mungkin .. sudahlah. sudah cukup rasanya membohongi diri sendiri dengan mengatakan "aku baik-baik saja", itu semakin melukai diri. aku harus dengan tegap dan suara yang keras mengatakan bahwa "aku tidak baik-baik saja". agar aku tau, apa yang harus aku perbaiki dan obati. semuanya terjadi dan begitu emosional.
aku hilang kendali atas perasaan yang begitu dalam ini. aku seperti penyakitan dalam penjara sepi. dada yang selalu sesak, mata perih oleh air mata yang tak kunjung kering, dan tak bisa dibayangkan oleh siapapun. pada siapa aku mengadu? aku mulai hilang kendali atas rasa percaya pada orang-orang itu. maka aku diam, menikmati ini sendiri, dan tak ada yang bisa mengingatkan bahwa aku dalam kondisi tidak baik-baik saja. tidak ada yang mengingatkanku bahwa aku harus mengobati ini. aku mengandalkan diriku sendiri atas semua kendali itu. aku pun mulai lelah ketika aku harus terus menerus katakan pada orang-orang yang seharusnya aku percayai itu, "aku tidak apa-apa". itu semakin membuat dalam seluruh luka dalam diri ini.
dan, Tuhan. Ampuni Aku. yang kemudian melupakan kematian yang begitu dekat. baru pagi ini aku sadari, bahwa waktu berjalan begitu cepat, tak ditunggu pun kematian pasti akan datang. aku sedih. belum sampai ilmuku bahwa aku bisa tenang dan ikhlas menghadapi kematian. aku takut sendiri dan gelap.
aku takut tak menemukan wajah penuh kasih, ayah dan ibu. aku takut tak bisa bercanda gurau dengan adikku. aku takut kehilangan mereka.
dan rasa sakit ini pun mungkin bukti atas kurangnya rasa percayaku pada-Mu. Aku selalu gelisah dengan jodohku, rejekiku, dan aku sering melupakan kematian.
aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja.
aku hilang kendali atas perasaan yang begitu dalam ini. aku seperti penyakitan dalam penjara sepi. dada yang selalu sesak, mata perih oleh air mata yang tak kunjung kering, dan tak bisa dibayangkan oleh siapapun. pada siapa aku mengadu? aku mulai hilang kendali atas rasa percaya pada orang-orang itu. maka aku diam, menikmati ini sendiri, dan tak ada yang bisa mengingatkan bahwa aku dalam kondisi tidak baik-baik saja. tidak ada yang mengingatkanku bahwa aku harus mengobati ini. aku mengandalkan diriku sendiri atas semua kendali itu. aku pun mulai lelah ketika aku harus terus menerus katakan pada orang-orang yang seharusnya aku percayai itu, "aku tidak apa-apa". itu semakin membuat dalam seluruh luka dalam diri ini.
dan, Tuhan. Ampuni Aku. yang kemudian melupakan kematian yang begitu dekat. baru pagi ini aku sadari, bahwa waktu berjalan begitu cepat, tak ditunggu pun kematian pasti akan datang. aku sedih. belum sampai ilmuku bahwa aku bisa tenang dan ikhlas menghadapi kematian. aku takut sendiri dan gelap.
aku takut tak menemukan wajah penuh kasih, ayah dan ibu. aku takut tak bisa bercanda gurau dengan adikku. aku takut kehilangan mereka.
dan rasa sakit ini pun mungkin bukti atas kurangnya rasa percayaku pada-Mu. Aku selalu gelisah dengan jodohku, rejekiku, dan aku sering melupakan kematian.
Labels:
Celoteh
Subscribe to:
Comments (Atom)
