Sore-sore menjelang buka puasa, di kosan sendirian dengan handphone mati tak berdaya. Dapet tips dari si agen, kalo sendirian enakan di kamer. Hahaha. Di kamer sendirian emang paling enak baca novel. Tapi novel yang ada udah dikhatamin berkali-kali, beli buku baru, ya buku tentang materi buat di tugas akhir. Dan nampaknya memang bukan tergolong jenis buku yang enak dibaca buat nunggu buka puasa hehe. Hmm. Gak ada novel, bikin tulisan sendiri pun jadi, hahaha.
Sedang memperhatikan lingkungan sekitar, dan sedang mencoba mengasah kepekaan hati akan masalah-masalah yang terjadi di sekitar. Semoga dengan ini, hati tidak menjadi tumpul akan kesusahan orang lain. Karena sesungguhnya kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan harus saling membantu. Akhir-akhir ini hati sedang risau. Awalnya hanya obrolan biasa saja di kalangan kami, tapi nyatanya diam-diam aku terus berpikir dan berpikir. Tentang apa? Tentang kamu .. KKN oh KKN. Kuliah Kerja Nyata? Bukan! Tapi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Agak miris memang melihat praktik-praktik ini masih terjadi di tahun yang sangat milenium ini. Dan, ternyata hal ini sudah merambah ke semua bidang kehidupan. Di bawah ini terdapat pengertian tentang Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk,
rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency
International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi
maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal
memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan
menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat
kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian
yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai
pelicin agar segala urusannya menjadi lancar
Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan
hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan
dalam konteks derogatori.
Sungguh mengerikan bukan? Pernahkah kalian berpikir apa yang akan terjadi jika praktik-praktik semacam ini masih terus berlanjut hingga tahun-tahun ke depan? Apakah hanya garis keturunan keluarga tertentu saja yang bisa mendapatkan pendidikan yang bagus disekolah/ universitas yang bagus? apakah hanya garis keturunan keluarga tertentu saja yang bisa bekerja di tempat yang bagus dengan kesejahteraan yang bagus?
Mungkin tak harus menceritakan orang lain sebagai contohnya, karena keluarga saya pun mengalaminya. Ibu, iya, beliaulah yang pernah mengalami hal buruk ini. Enambelas tahun mengabdi menjadi seorang guru bantu, dan selama itu pula tak pernah berhasil mengikuti tes PNS. Sudah puluhan kali beliau mengikuti ujian tersebut dan naas, tak pernah berhasil. Ayah, sosok lelaki hebat dibelakangnya, yang selalu mendukung dan memberi semangat. Di tahun ke sepuluh ibu menjadi guru bantu, seorang temannya datang dan menawarkan untuk "menitip" agar lolos menjadi PNS. Namun, di tahun itu ternyata Ibu tak mempunyai uang sebanyak itu untuk "menitip". Dan benar saja, ketika pengumuman seleksi, temannya itu lulus dan ibu kembali menelan pil pahit, ibu tidak lulus. Selama seminggu penuh, tak ada wajah ramah Ibu di rumah. Namun Tuhan punya rencana yang lebih indah, di tahun ke-16 pengabdian Ibu, ternyata Ibu lolos seleksi secara jujur. Luar biasa, betapa bangganya mempunyai seorang Ibu yang sangat gigih dan jujur seperti itu.
Mereka adalah orangtua yang teramat sangat sayang kepada anaknya. Dan peristiwa itu cukup menyadarkan dan mengajarkan saya tentang hidup. Sehingga tumbuhlah saya seperti sekarang ini, pribadi yang keras dan cenderung "sombong" untuk mencoba belajar hidup tak berpegang pada "kenalan orangtua". Sudah pernah merasakan dan melihat sendiri akibat dari praktik KKN itu, sehingga sangat amat menghindari menjadi bagian darinya *entahlah jika pernah dilakukan tanpa sadar*. Masih berusaha dan terus berusaha. Pemaknaan terhadap sebuah peristiwa pun pasti akan berbeda pada tiap orangnya, termasuk saya dan orangtua saya.
Mempunyai banyak orang yang dikenal sungguhlah baik, namun, menjadi tidak jika ada niatan lain, yaitu selain niatan baik untuk terus menjaga ukhuwah islamiyah :)
sumber : http://asrihandayani.wordpress.com/2010/03/31/pengertian-korupsikolusidan-nepotisme/