Menjadi
seorang pendidik, bukan karena kita merasa sudah banyak tahu dan sudah terlalu
pintar. Tapi karena dalam prosesnya, ada proses “mendidik diri sendiri”. Entah
mantra apa yang selalu mereka baca, namun inilah rasanya, ketika dalm kondisi
terburuk pun, memasuki ruangan yang aku sebut “taman bermain”, perasaan bahagia dan
gembira untuk muncul begitu saja. Tak bisa aku bendung, melihat mereka yang
malas dan menidurkan kepala mereka di atas meja, dan dengan mudah mereka katakan
“Bu, capek. Gak mau belajar”. Bukan perasaan marah yang muncul. Tapi justru
ingatan akan masa lalu ketika akupun ada di posisi mereka. Aku hanya tersenyum
dan berusaha membuat mereka bersemangat dan tersenyum. Bukan, aku bukan badut.
Satu dua orang, bukan semuanya yang bersemangat untuk melanjutkan pembelajaran.
Dan sisanya, sangat asyik dengan dunianya masing-masing. Masalah, bukan pada mereka, tapi
kita sebagai pendidik, bagaimana “mendidik diri sendiri” untuk kondisi seperti
ini. Bukan karakter mereka yang harus kita ubah, tapi pendekatan kita terhadap
mereka yang harus diubah. Biarlah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan
karakter mereka masing-masing. Aku tak ingin dan tak ada niatan sekalipun
merubah karakter mereka, walaupun pendidik lain yang sudah jelas lebih baik
daripadaku selalu mencap mereka sebagai anak “bandel”.
Mereka sangat berhasil
mebelajarkan akan arti sebuah kesabaran. Aku berhutang banyak terhadap mereka,
tanpa dibayar, mereka mau melakukan itu semua. Sungguh itulah yang dinamakan
Rahmat Tuhan.
Setelah melewati empat bulan yang begitu panjang :')

suka bacanya :D
ReplyDelete