Tuesday, June 11, 2013

Doa Malam

Dengan atau tanpanya, hidup memang harus berjalan. Tapi tentu dalam empat malam terakhir ini Aku tak lagi menemukan sebuah ketenangan dalam malam. Pagi, Siang, senyumku nyata berkembang. Tapi tidak untuk malam. Malam yang selalu menyelimutiku dalam kesendirian, bukan untuk menghangatkan, tapi membelitku dalam kesesakkan. 
Ingin segera kusudahi, tapi nyatanya sulit berhenti. Entah apa ini. Doa, menjadi pilihan terakhirku untuk menggugurkan segala rasa yang membelit hati. Hanya itu.
Dan untuk yang tak berkabar, segeralah. Ada yang menanti dalam keheningan malam, dalam tiap doa yang dipanjatkan pada Tuhan yang kita akui sama. 
Dan untuk yang berpulang, bersihkanlah. Bersihkanlah segala salah dan timbanglah segala kebaikannya. Peluk mereka Tuhan. Sehangat pelukan sinar mentari pagi dan cahaya senja yang meneduhkan.

~ Peringatan Tujuh Hari Kepulangan Ibunda Cahyo TP (Yoyo) ~
~ Peringatan Seribu Hari Pak De Tercinta, Kamsa ~
 

Pendidik Dalam Kotakku

Menjadi seorang pendidik, bukan karena kita merasa sudah banyak tahu dan sudah terlalu pintar. Tapi karena dalam prosesnya, ada proses “mendidik diri sendiri”. Entah mantra apa yang selalu mereka baca, namun inilah rasanya, ketika dalm kondisi terburuk pun, memasuki ruangan yang aku sebut “taman bermain”, perasaan bahagia dan gembira untuk muncul begitu saja. Tak bisa aku bendung, melihat mereka yang malas dan menidurkan kepala mereka di atas meja, dan dengan mudah mereka katakan “Bu, capek. Gak mau belajar”.  Bukan perasaan marah yang muncul. Tapi justru ingatan akan masa lalu ketika akupun ada di posisi mereka. Aku hanya tersenyum dan berusaha membuat mereka bersemangat dan tersenyum. Bukan, aku bukan badut. Satu dua orang, bukan semuanya yang bersemangat untuk melanjutkan pembelajaran. Dan sisanya, sangat asyik dengan dunianya masing-masing. Masalah, bukan pada mereka, tapi kita sebagai pendidik, bagaimana “mendidik diri sendiri” untuk kondisi seperti ini. Bukan karakter mereka yang harus kita ubah, tapi pendekatan kita terhadap mereka yang harus diubah. Biarlah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Aku tak ingin dan tak ada niatan sekalipun merubah karakter mereka, walaupun pendidik lain yang sudah jelas lebih baik daripadaku selalu mencap mereka sebagai anak “bandel”.

Mereka sangat berhasil mebelajarkan akan arti sebuah kesabaran. Aku berhutang banyak terhadap mereka, tanpa dibayar, mereka mau melakukan itu semua. Sungguh itulah yang dinamakan Rahmat Tuhan. 

Setelah melewati empat bulan yang begitu panjang :')
© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis