TUHAN, ada rasa sakit yang menyesakkan dalam dadaku ini yang selalu menekan
air mata. Mungkin KAMU tahu.
Kamu, ada kata yang selalu terbelenggu. Menanti kamu untuk melepaskannya.
TUHAN tahu, selalu ada nama yang tidak lain adalah kamu, yang selalu
menyelinap dalam setiap kebaikan doa yang terucap dari bibir ini. Padahal kamu
tau? ada rasa sakit yang menyesakkan dalam dadaku ini yang selalu menekan air
mata.
TUHAN. Hati ini KAU buatkan dari apa? Sekuat itukah? Mengapa KAU tegur aku
ketika dalam doa khususku ini masih kusebut namanya?
Kamu. Doaku masih selalu tentangmu, tapi TUHAN menegurku. Apakah kamu ingin
tahu apa doaku? Tidak? Aku paksakan untuk Kamu mendengarnya.
“Tuhan, sakit sekali, sesak sekali.
Pikiranku terhenti. Mata ini tak pernah kering. Hati pun tak kunjung berhenti
untuk bertanya. Semuanya terasa aneh. Tuhan, balaskanlah apa yang aku rasakan
ini pada semua wanita yang dicintainya, mungkin anaknya, atau cucunya, balaskan
Tuhan. Sesakit ini, sesakit yang kurasa ini. Ini masih tentang dia Tuhan. Aku
yakin Kau tidak lupa. Orang yang tak pernah alpa dalam doaku.”
Kamu. Hanya doa itu, HANYA KARENA DOA itu. Kini aku berduka.
Dipelukankku, seorang gadis sedang terisak. Air matanya tak henti membasahi
dadaku. Nafasnya sudah tak teratur. Sesekali dia mengumpat. Hanya karena DOAku,
gadis ini, darah dagingku, mengalami semua kepahitan yang sama seperti yang aku
rasakan dulu, olehmu. Dendam dalam doaku, menimpa anakku, yang juga anakmu,
Maafkan Ibu.
