Terkadang
kamu hanya tau apa yang aku sampaikan, bukan apa yang sedang aku rasakan.
Tanyakanlah wahai kamu ..
Matahari pulang ke
peraduannya, masih di tempat yang sama. Begitupun kamu, pulang ke peraduan,
masih di tempat yang sama pula, rumah ini. Kamu seperti matahari sayang,
menyilaukan ketika siang, menerangi alam ini, dan terkadang memang membuat
jengkel, karena melunturkan make-upku. Dan dimalam hari, kamu tidak mati, sama seperti matahari, hanya bersembunyi
ke bagian bumi yang lain. Jika matahari bersembunyi di bagian bumi yang lain,
kamupun sama, bersembunyi pada bagian hati yang lain.
Seperti biasa, dan
seperti menjadi sebuah ritual wajib, membunuh waktu di sofa ini, hanya kita,
aku, kamu, dan sofa. Tidak pada sofa lain, pasti pada sofa ini. Sebuah ritual
yang selalu membuatku bahagia tak bertepi, yang selalu melahirkan hormon-hormon
kebahagiaan.
Aku duduk, dan kamu
menidurkan kepalamu di atas pahaku dengan beralas sebuah bantal sofa. Kamu
selalu memintaku untuk menjambak-jambak rambutmu yang tak sepanjang rambutku.
Aku pijat pelan kepalamu, karna kamu sering mengeluh kepala terasa berat.
“Satu .. duaa .. happ”
Aba-aba darimu. Mata kami langsung tertutup, dan tanganku masih ada di atas
kepalamu. “Apa?” tanyamu.
“Kosong” Jawabku
“Kosong itu hampa.
Hampa itu saat kita jauh dari elemen yang
menghidupkan”
“Pudar”
“Pudar yang selama ini
dirasa bukan berarti pudar yang sebenarnya. Bisa jadi pudar itu adalah jalan
untuk membukacahaya yang tertutup debu. Dan saat debu itu memudar, maka cahaya
indah akan terlihat”
“Gerimis”
“Gerimis itu tak selamanya pertanda hujan. Gerimis bagaikan sahutan dalam
hati. Saat hatimu bersautan karena satu hal, belum tentu itu cinta. Cinta itu
abstrak. Abstrak seperti hujan. Kita hanya bisa menerka, bukan menentukan.”
“Kamu”
“Kamu? Kamu adalah aku. Dan aku adalah kamu. Hahaha. Kamu adalah kamu. Meskipun kamu adalah kamu, tapi kamu
bukan milikmu. Bukan milikku, juga bukan milik yang lain. Kamu tak berhak
menisbahkan kamu milik siapa. Karena hanya pemilikmu yang berhak menentukan
siapa pemilikmu.”
“Ranting”
“Kadang ranting sering dianggap tak berharga saat pohon tumbuh dan makin
tumbuh. Padahal apa jadinya pohon tak beranting? Seperti halnya daun tua. Meski
suatu saat hanya mengotori, tapi dijejak-jejak waktunya selalu penuh makna.
Ranting yang kecil mungkin tak berguna tapi karenanya pohon menjadi indah. Rasa
sayang yang sedikit mungkin tak berarti, tapi karenanya cinta menjadi penuh
makna.”
“Angin”
“Angin tak pernah bisa kamu lihat, tapi bisa kamu rasakan. Tidak selamanya
apa yang tidak kamu lihat itu tidak ada. Akan tetapi tidak selalu apa yang
tidak bisa kamu lihat, bisa dengan mudah kamu rasakan. Angin itu isyarat cinta.
Cinta yang lembut, yang takkan pernah terlihat oleh siapapu, tapi hanya bisa
dirasakan oleh hati yang terbuka terhadap kepekaan.”
“Ombak”
“Ombak bisa membuat jiwamu menemui titik ketenangan. Saat ombak menari di
bawah jingganya mentari, dengan matamu, jiwamu bisa melayang. Tapi saat ombak
mengamuk, dan kamu tak bisa mengendalikannya, maka semua keindahan itu hanya
mimpi buruk. Hidup ini juga begitu. Apapun, saat kita tidak bisa
mengendalikannya maka semuanya hanya mimpi buruk.”
Aku belum menemukan hal lain … dan berakhir, ketika
aku merasakan bahwa kepalamu sudah tak lagi pada posisi semula, merangkak
naik hingga bibirmu setara dengan keningku, satu kecupan yang selalu
membangunkanku dari berkhayal.
Kamu tidurkan lagi
kepalamu. Kini, kami memandangi televisi yang sejak tadi kami abaikan.
“apakah kamu tidak
pernah merasa bersalah, sedikitpun, padaku?” tanyaku mengganggu suara presenter
reality show itu. Kamu segera bangun, dan duduk mensejajarkanku.
“salah? Seperti
memikirkan wanita lain selain kamu?”
“tidak. Aku tahu, hal
itu akan sangat sulit aku cegah, dan aku maklumi itu.”
“ … “
“Sekian lama, aku
terbiasa sendiri, tanpa menggantungkan apapun pada orang lain, kecuali
orangtuaku. Dan kamu dating, memporakporandakan semua itu. Kini aku takut
sendiri. Aku sudah tak terbiasa sendiri. Berjanjilah untuk tidak
meninggalkanku.”
Kamu tersenyum. “jangan
pernah takut. Aku tak akan benar-benara meninggalkanmu sendiri. Akan ada yang
menemanimu. Walaupun bukan aku wujudnya.”
Entah mengapa,
kata-katamu membuatku terisak. Air mata tak hentinya turun dari mataku.pelukan
itu yang masih sangat terasa.
***
Empat puluh tahun aku dan
kamu mengarungi kehidupan pernikahan. Dan inilah waktu yang selalu membuatku
menangis ketika membayangkannya. Aku tahu kamu bahagia. Dan benar, kau tidak
membiarkanku sendiri. Ada anak-anak kita yang menemaniku dalam kesendirian.
Tapi sudah tidak adalagi taman khayalan yang kita buat. Sudah tidak adalagi
yang menyadarkanku jika khayalanku sudah terlalu jauh. Sudah tidak adalagi
penyadaran itu, kecupan hangat di keningku.
- AGEN PEPAPI -

