Sunday, August 18, 2013

setengah wajah

Ini, bagian dari hari yang tidak bisa dinamai malam dan juga waktu disaat matahari belum keluar dari peraduannya. Ini, bukan surat cinta yang ditulis pelaku asmara yang sedang menjadi pujangga. Ini, hanya tentang cermin yang berbicara, mengenai aku dan diriku.
Ada aku, dalam cermin di depanku. Ada aku, yang masih tetap begini. Ada aku, dengan setengah wajahku. Ada senyum, yang matanya masih dipenuhi oleh kerisauan. Ada senyum, yang matanya masih dipenuhi kesedihan. Ada senyum, dalam kepura-puraan.
"Masih adakah yang membutuhkan senyum ini? Siapa?" Akhirnya, ada hal yang aku tanyakan pada cermin itu.
"Tidak ada." Jawabnya. Suara yang sangat aku kenali, dan aku rasakan getaran pita suaranya ketika dia menjawab itu.
"Iya, tentu tidak ada."
"Tidak ada juga yang membutuhkan kesedihanmu."
"Tidak ada pula yang menginginkanku."
"Tidak akan pernah ada"
"Jika aku tak pernah ada yang menginginkan. Mengapa aku harus ada di depanmu kini?"
"Inipun tidak ada yang menginginkan, baik aku ataupun kamu"

Aku putus asa, mendengarkan semua jawaban yang akhirnya menyudutkanku sendiri. Aku tutup mataku, dan kembali, aku buka. Aku temukan aku yang berbeda, dengan setengah wajahku yang lainnya.

"Jika cinta terlahir tanpa alasan, apakah penciptaanku pun begitu?

sumber gambar: google

cinta ?

Aku pikir cinta adalah tentang memiliki, ternyata tidak.
Aku pikir cinta adalah tentang menyakiti, ternyata tidak.
Aku pikir cinta adalah tentang berbagi, ternyata tidak.
Ternyata cinta adalah tentang memahami, bagaimana memiliki tanpa menguasai, bagaimana menyakiti tanpa harus saling caci, bagaimana berbagi tanpa ada yang terluka.

konsep cinta 
terlalu banyak
terlalu bias

cinta pada Maha Pencinta
konsep cinta
yang abadi


Wednesday, August 14, 2013

senyum

Apa yang lebih membahagiakan selain melihat SENYUMAN ?


Kapan terakhir kali kita tersenyum ?

#saveegypt

ada yang salah jika hati ini tidak bergetar ketika melihatnya.
pasti ada ...
harusnya aku tahu apa yang terjadi, tapi aku berusaha untuk tidak mencari tahunya,
akan banyak rasa sedih yang terus bergelayut.
dan sedihku ini mungkin tak akan membantu siapapun
penyadaran itu datang
menerjangku
dan memaksaku untuk terus membuka mata
aku takut
aku terus menutup mataku
sampai penyadaran itu benar-benar memaksaku untuk melihat
aku menangis
aku bersedih
dan aku berdosa
lalu aku berdoa

...

 "jika aku menjadi salah satu diantara mereka, apakah aku akan sekuat itu? akan sesanggup itu? pembunuhan terjadi di depan mata, serasa semuanya menjadi hal yang biasa. PADAHAL TIDAK. terlebih, mereka yang tidak berdosa.Darah mereka membasahi tanah mesir, air mata dari mata yang terkasih pun sudah membanjiri tanah mesir. Akan sesubur apakah tanah mesir? atau akan tenggelam dalam darah dan air mata? Mesir sangat jauh, harusnya aku tak perlu merasa seperti ini. Namun kedekatan sebagai saudara muslim yang membuat hati ini selalu tak berdaya melihat segala hal yang terjadi disana."


© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis