Ini, bagian dari hari yang tidak bisa dinamai malam dan juga waktu disaat matahari belum keluar dari peraduannya. Ini, bukan surat cinta yang ditulis pelaku asmara yang sedang menjadi pujangga. Ini, hanya tentang cermin yang berbicara, mengenai aku dan diriku.
Ada aku, dalam cermin di depanku. Ada aku, yang masih tetap begini. Ada aku, dengan setengah wajahku. Ada senyum, yang matanya masih dipenuhi oleh kerisauan. Ada senyum, yang matanya masih dipenuhi kesedihan. Ada senyum, dalam kepura-puraan.
"Masih adakah yang membutuhkan senyum ini? Siapa?" Akhirnya, ada hal yang aku tanyakan pada cermin itu.
"Tidak ada." Jawabnya. Suara yang sangat aku kenali, dan aku rasakan getaran pita suaranya ketika dia menjawab itu.
"Iya, tentu tidak ada."
"Tidak ada juga yang membutuhkan kesedihanmu."
"Tidak ada pula yang menginginkanku."
"Tidak akan pernah ada"
"Jika aku tak pernah ada yang menginginkan. Mengapa aku harus ada di depanmu kini?"
"Inipun tidak ada yang menginginkan, baik aku ataupun kamu"
Aku putus asa, mendengarkan semua jawaban yang akhirnya menyudutkanku sendiri. Aku tutup mataku, dan kembali, aku buka. Aku temukan aku yang berbeda, dengan setengah wajahku yang lainnya.
"Jika cinta terlahir tanpa alasan, apakah penciptaanku pun begitu?"
sumber gambar: google


